One Internet User’s Experience: A Journey from Zero Point to XLangkah Lebih Maju Level

Standard

Ekspresi emosi di permukaan wajah perempuan itu mulai bergeser. Matanya mulai berbinar. Kekhawatiran tergantikan ke arah puas dan gembira. Ia seperti menemukan inspirasi spirit hidup di fisiknya yang menua.

Matanya menatap lekat-lekat LCD HP canggih itu. Di layar HP โ€˜Sale Only in Taiwanโ€™ itu, tertampang gambar anak perempuannya. Disitu, tampak pose gadis yang tak kurang apa-apa. Image yang terkirim dalam hitungan detik dari sebuah jarak dimana anaknya meniti takdir sebagai TKW. Kekhawatiran di wajah janda itu berangsur melenyap. Tak dipungkiri, one picture speaks louder ย than a thousand words. Bahkan menurutnya, gambar itu memperlihatkan versi anaknya yang makmur, penuh harapan dan bahagia.

Untuk sampai pada momen seperti itu, HP itu harus mengalami perjalanan panjang. Bukan hanya karena dikirim dari Taiwan ke sebuah kota kecil di Jawa Timur. HP itu juga melewati meja Kantor Service cabang sebuah Sim Card dikota kami. Di kantor itu telah dilakukan setting internet dan MMS, namun upaya komunikasi yang dilakukan dengan melibatkan fungsi internet dan MMS tetap menunjukkan tanpa hasil dan arah kemajuan. Oleh salah satu anaknya, HP itu dibawa ke rumah saya. Saya terkejut, dari sekian banyak orang pintar disekitar saya, kenapa saya yang dipilih. Ternyata memilihnya tidak acak. Menurut dia, saya dipilih karena saya merupakan salah satu dari sedikit orang yang XLangkah Lebih Maju dalam pengetahuan skill internetnya, terutama setting internet HP (GR mode on, looooolllll! ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ).

Meski puas dan gembira, cerita tentang HP dan keluarga TKW tersebut berakhir dengan agak sedih. Tapi sabar dulu ya, sebelum dilanjut, lebih dulu saya share perjalanan saya dari pribadi yang buta internet ke level skill internet saat ini.

Waktu bersama keluarga TKW diataslah saya menemukan AHA moment saya. Ternyata, skill internet saya bisa bermanfaat juga (meski kecil) buat orang-orang disekitar saya. Saya jadi ingat, skill adalah bagian dari knowledge. Padahal, knowledge is power. Bersyukur power yang saya miliki sudah menghasilkan satu keluarga tersenyum waktu itu. Ingat lagi ucapan Uncle Ben, paman Spiderman, with great power comes great responsibility. Tentu, because the knowledge is the power, berarti: with knowledge comes great responsibility.

Tak bisa lupa rasanya musibah yang mengguncang desa saya lebih dari setahun lalu. Dua anak manis remaja akhir kakak beradik bermobil arah mendekati Surabaya. Tiba-tiba salah satu ban mobil pecah, olenglah mobil itu. Kendaraan beroda empat itu meluncur menabrak melewati pembatas tol.

Dari jalur lain arah yang berlawanan, dengan kecepatan tinggi meluncur bis angkutan umum. Arus lalu lintas memang sangat ramai karena bersamaan dengan puncak arus mudik menjelang Idul Fitri. Dan, bis itu tidak tertahankan menabrak mobil yang dengan genit menyelinap didepannya. Dua remaja itu ringsek bersama mobilnya. Dengan gerak cepat, dua anak itu dilarikan ke UGD RS dr. Soetomo.

Karena jarak antara Surabaya dengan domisili kami jauh, perkembangan berita mengenai anak itu bisa kami ikuti secara intens dengan melihat update akun di wall facebook mereka. Walaupun akun facebook mereka tidak aktif selama berbulan-bulan, teman-teman dan anggota keluarga mereka mengucapkan doa, harapan kesembuhan, kesan dan apa yang terjadi ketika mereka bezuk di wall akun facebook mereka.

Kami yang di kampung bisa paham kapan jadwal bedah leher, dada, lengan, kaki dan batok kepala mereka. Atau kapan mereka dibolehkan pulang (momen paling mengharukan). Kapan kami bisa membezuk mereka. Atau saat salah satu korban untuk pertama kalinya mampu mengupdate dinding akun facebooknya dengan ucapan syukur Alhamdulillah, karena Tuhan masih memberi kesempatan kedua.

Daaannn, acuan informasi perkembangan dua remaja ini, didapat lingkungan sekitar dari saya. Kenapa? Karena saya dipandang sebagai orang yang efektif menggunakan akun facebook yang saya punya, sebagai tanda orang yang XLangkah Lebih Maju internet skillnya (GR: masih menyala mode on, looooolllll! ๐Ÿ˜† :lol:).

Tapiiii, walau dianggap XLangkah Lebih Maju (dibanding lingkungan saya), tidak berarti skill saya sudah sempurna. Lagi pula, kesempurnaan hanya milik Allah (kata Dorce, looollll! ๐Ÿ˜† :lol:). Masih segar ingatan saya saat pertama kali masuk warnet, hanya berbekal kemampuan sebagai end user microsoft word alias mengetik. Makanya, satu-satunya yang saya lakukan di warnet saat itu cuma browsing. Itupun hanya saya lakukan dengan mengeksploitasi search engine hingga mendapatkan hasil yang saya butuhkan. Yang utama, saya mengurangi rasa takut salah, karena seperti pepatah Latin errare humanum est, alias to err is human. Salah itu hal yang bersifat manusiawi.

Benar-benar a blessed in disguise. Saat harus ke internet pertama kali, waktu itu merupakan keterpaksaan dan satu-satunya jalan yang harus saya lakukan. Kali itu, saya dikejar deadline tugas mata kuliah Hukum Pasar Modal. Referensi di perpustakaan sudah tak mungkin ditemukan. Selain karena bukunya terbatas, waktu buka layanan perpustakaannya juga habis. Saya HARUS ke warnet.

Memasuki warnet untuk pertama kali aneh rasanya. Untung layar komputer sudah menyala dengan homepage yang tertera kata search. Saya arahkan pointer mouse ke kotak disamping search, lalu mengetik Undang Undang tentang Penanaman Modal. Voillaaaaaa, saya terpana. Jauh lebih mudah dari yang saya bayangkan, dalam hitungan detik muncul results ribuan alternatif bahan makalah, yang saya cari selama satu sore tapi tak menemukan apapun di perpustakaan kampus. Berawal terpaksa, kesan pertama tergoda dan adiktif sampai sekarang (dohhh kayak apa aja yaaaa, lollll!:lol: :lol:).

And, the rest is history. Mirip dengan yang dikatakan Barrack Obama: Because it’s only when you hitch your wagon to something larger than yourself that you realize your true potential, kita akan mampu mengenali kemampuan tertinggi kita kalau dipertemukan dengan tantangan sulit.

Aristoteles berkata, We are what we repeatedly do, excellence, then, is not an act, but a habit. Untuk sampai familiar dengan aktivitas berinternet sekarang, seperti chatting, emailing, social networking, online shopping memakai online payment, blogging, online video dan lain-lain, tak terjadi hanya dengan duduk satu kali datang di warnet. Dibutuhkan proses berulang-ulang trial dan error. Setiap error membawa saya menjauhi titik zero menuju XLangkah Lebih Maju ke pemahaman didepannya. Esoknya lagi, XLangkah Lebih Maju dengan trial. Lusanya, XLangkah Lebih Maju karena error. Persis dengan yang dinasehatkan King Robert Bruce of Scotland, if at first you don’t succeed, try and try again. Tak terasa, kebiasaan itu terakumulasi menghasilkan level skill internet saya yang sekarang.

Karena sudah menjadi habitual action, berselancar di internet juga pelan tapi pasti menjadi bagian gaya hidup saya. Tentunya saat itu tugas kampus is the first. Sisanya pasti kesenangan, looolll:lol: ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† (padahal ada pepatah: donโ€™t mix business with pleasure, hehehehehe). Terutama, karena dalam satu layar bisa membuka beberapa windows atau tab secara berjamaah. Satu tab tentang tugas, beberapa tab berisi kesenangan, lolololol.

Berbicara masalah kesenangan di internet, saya senang menjadi SR (silent reader, partisipan pasif) dari forum dunia maya, yang ternyata berkumpul komunitas berdasar variasi minat. Ada forum misteri, jual beli, gossip, politik, bahasa dan lain-lain. Karena tergoda, akhirnya saya bergabung di sebuah forum salah satu portal berita Indonesia. Bergabung bulan Mei, dua minggu kemarin diumumkan sebagai pemenang juara pertama lomba membuat thread diskusi. Wow, kali ini saya XLangkah Lebih Maju di ajang forum dunia maya, dengan ID clonedcypress.

Menutup artikel ini, saya juga bangga bila ingat tahun lalu, kemampuan berinternet saya dimanfaatkan beberapa teman, ketika teman saya yang merupakan peserta tes cpns meminta saya mendaftarkan mereka secara online sebagai persyaratan recruitment sebuah lembaga pemerintah.

Dan beberapa hari lalu seorang teman yang tak bisa berinternet meminta saya untuk mencarikan namanya di daftar NUPTK yang ditayangkan secara online seIndonesia sebagai persyaratan mengajarnya. Yah, saya mau meski gratis (hihihihihi ๐Ÿ˜† :lol:), lagi-lagi karena knowledge is power dan tentunya with knowledge and power come responsibility.

Kembali ke cerita tentang janda, TKW, dan HP diawal artikel. Beberapa hari melakukan komunikasi interaktif melibatkan suara, MMS dan internet , kekhawatiran diantara kedua pihak yang terpisah jarak yang berjauhan benar-benar sudah berkurang. Sampai satu hari, anggota termuda dirumah itu mengadakan acara kumpul-kumpul dengan mengundang teman-temannya kerumah itu. Acara berjalan lancar menyenangkan, dan berakhir dengan perpisahan karena waktu sudah usai. Keesokan hari, seluruh anggota keluarga baru sadar kalau HP canggih itu raib.

Semua kemungkinan upaya mencari HP itu dilakukan, tapi dengan tekad untuk tidak mengkambinghitamkan tamu, status HP hilang itu tetap bertahan sampai sekarang. Komunikasi diteruskan dengan via voice call dengan HP termurah yang bisa dibeli (saya juga yang diberi amanah untuk membelinya, HP second hand seharga duaratus ribu rupiah bermerek Nokia, tanpa fasilitas internetย  memadai). Namun, ada kabar lebih gembira. dalam beberapa bulan ini, mengakhiri kontraknya tiga tahun lalu, sang TKW akan pulang untuk bersatu kembali dengan keluarganya.

Advertisements

13 thoughts on “One Internet User’s Experience: A Journey from Zero Point to XLangkah Lebih Maju Level

  1. Pingback: One Internet User’s Experience: A Journey from Zero Point to XLangkah Lebih Maju Level « share love and inspiration

    • wah, aryn merendah. kalo aku aja bisa, aryn pasti lebih mampu dari aku, soalnya situ kan XLangkah Lebih Maju dibanding aku, hehehe. thanks ya. nanti gw follow twit dan blognya ya. don’t forget to folbek, girl. thanks for coming. so much appreciated.

  2. wahhh ^^d
    salut untuk skill narasi nya
    sepertinya sudah sangat unggul untuk mengembangkan potensi menulis naratif nya
    di SBY ada gerakan positif psikologi : salah satunya menghidupkan kekuatan narasi untuk mengembangkan potensi bangsa

    mungkin kalau Anda berkenan mengunjungi situsnya, karena mengingat sepertinya kok cocok dg arah gerakan ini http://blog.indonesiabercerita.org/agendaidcerita/edustory/edustory-7-apa-aksimu-untuk-menghidupkan-kebiasaan-bercerita/

    para pionernya di twitter @rudicahyo dan @bukik

    semngat ya

    • wah, thanks for stopping by. linknya udah aku buka, and that’s great. XLangkah Lebih Maju dalam bermanfaat buat orang lain. i’m impressed. nanti aku follow twitternya bukik ya. thanks again.

  3. makasih udah berkunjung ke blog saya, salam kenal ya ๐Ÿ™‚
    mantap tulisannya semoga nanti kita bisa sama2 menang dan Xlangkah lebih maju dgn internet..

    • amin, kalo kita menang sama2, mas fajarnya aja deh yg dapet IPAD :), writingnya superb dan XLangkah Lebih Maju, lho. thanks ya udah memberi kunjungan balasan. ok, semangat and gut lak.

  4. hai, maaf br sempat mampir nih. artikelnya bagus, narasinya oke jg. layak jg kok dpt ipad2 ๐Ÿ™‚
    sepertinya situ Xlangkah lebih maju drpd sy nih, menang lomba thread diskusi….

    • hehehe. gak terlambat kok mas mampirnya, whenever you wish laaaa :). saya emang menang lomba thread, tp kan topiknya untuk yg alay dan ababil (abg labil) mas, kalo mau mas malah bisa lebih dari sekedar saya :). wow, thanks ya complimentnya, meski layak dapet IPAD, kalo dibanding head to head kayaknya ada beberapa sisi tulisan mas yg lebih baik dibanding tulisan saya. after all, karena IPADnya satu, biarlah juri yang menentukan takdir ya, loool ๐Ÿ™‚ :). thanks again.

  5. hai…maaf br sempat mampir. artikel situ bagus jg. narasinya oke. layak jg kok dpt ipad2 ๐Ÿ™‚ sy suka cerita yg TKW, cm sayang narasinya agak terpotong dg cerita lain. ada baiknya ketika cerita beralih kasih tanda jeda misal (***) atau di kasih sub judul atau dikasih kalimat penyambung kalau cerita beralih scene dulu. sekedar saran, ga diterima jg gpp… ๐Ÿ™‚

  6. wah, kritiknya bagus banget. good feedback dari pembaca seperti mas layak diperhitungkan, akan saya gunakan buat tulisan berikutnya. berarti panduan yg saya baca dari buku joe vitale dalam menulis pemotongan narasi dan meletakkannya diakhir cerita agar pembaca penasaran dan tetap baca sampai akhir didn’t work yah mas. emang bener kok masukan mas firman, soalnya di panduan satunya pemotongan narasi malah bikin pembaca gak suka. wow, thanks again ya, calon pemenang IPAD, loool:):).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s